Kutipan ustad Felix Siauw tentang pacaran dan buku Udah
Putusin Aja
X : Tad,
kenapa Anda menyuruh orang yang pacaran untuk putus sih? Kenapa engga nyuruh
buat nikah aja?
UFS : Saya kasih
tahu, kenapa saya suruh orang untuk putusin? Karena orang pacaran tidak pernah
lihat nikah. Karena dia tidak lihat nikah, maka itu dia pacaran. Paham maksud
saya? Jadi ibarat kayak UMPTN. Jadi kemudian ada laki-laki yang kemudian enggan
lulus uji komitmen, kemudian jurusannya pacaran. Karena pacaran itu tidak
pernah komitmen, maka dari itu saya suruh putus dulu. Baru sesudah putus, kaji
islam dulu, perbaiki agamanya, baru deh nikah. Baru boleh silahkan, karena
nikah tanpa ilmu itu bunuh diri. Mengerikan, mengerikan serius.
X : tad,
terus kalo kita pacaran, kita engga bisa mengenal satu sama lain dong.
UFS : orang yang
saling mencintai karena Allah itu kemudian engga perlu berkenalan. Karena orang
yang sama-sama mencintai Allah akan saling mencintai juga. Engga perlu kemudian
dia berkenalan, karena dia sudah pasti kenal. Kenapa sudah pasti kenal? Karena sudah
mengenal Allah. Anda nikah karena wajah, siap-siap cintanya pudar dalam waktu 3
hari. Karena dalam waktu 3 hari rumput tetangga pasti lebih hijau. Kalau menikah
karena harta, perlu waktu 3,5 bulan untuk membuat cinta itu hilang. Karena apa?
Untuk balik nama. Tapi kalau cintanya karena Allah insya Allah tidak akan
pernah hilang. Karena dijaminkan pada sebuah Dzat yang Dzat itu akan abadi, maka
cintanya juga akan abadi.
Ketika suami mempunyai istri, kemudian bermaksiat, maka ia
akan mendapatkan dosanya. Dalam sebuah percakapan, seorang ulama mengatakan, “Seorang
perempuan, istri yang bermaksiat, dan kemudian suaminya tidak bisa meluruskan
dia, maka Allah membangunkan baginya rumah di neraka. Suaminya dibangunkan oleh
Allah rumah di neraka, kenapa, karena istri adalah tanggung jawab dia.” Maka jangan
main-main. Saat akad nikah itu, ketika wali berkata, “Saya nikahkan ini bin ini
dengan itu binti itu dengan mas kawin...”. Kemudian dijawab, “Saya terima
nikahnya...” seketika itu juga berpindah tanggung jawab dari orang tua kepada
suami. Kasih makan, pendidikan, pendampingan, pengayoman, segalanya pindah
kepada suami.
Makanya, seandainya seorang orang tua kemudian menikahkan anak
perempuannya pasti nangis. Karena apa? Karena seluruh yang sudah dia buat
selama ini dia percayakan pada orang lain. Saya secara pribadi yang mempunyai
anak tergedhe perempuan 4 tahun, tapi sampai sekarang saya bingung gimana kalau
satu hari saya menikahkan dia. Saya sudah kasih pendidikan yang paling bagus,
saya sudah kasih pendampingan yang paling bagus, ilmu agama, dan sebagainya,
untuk menyerahkan orang lain itu tidak mudah. Ketika berpindah itulah maka
bapaknya tidak lagi berdosa kalau anaknya bermaksiat. Karena yang menanggung
dosa suaminya. Maka saat itu juga berpindah, bahwa seorang istri harus lebih
taat kepada suaminya dibandingkan dengan keluarganya.

nice post zal :)
BalasHapusTerima kasih mas :)
Hapusbagus :)
BalasHapusinsyaAllah endak ada kritikan
Terima kasih :))
Hapus